Akhir-akhir ini, ruang publik kembali ramai membicarakan pendidikan. Kurikulum dibahas, asesmen diperdebatkan, mutu sekolah dipertanyakan. Namun, di balik semua itu, ada soal yang lebih mendasar, yaitu anak-anak kita kini belajar dalam lingkungan yang sangat berbeda dari generasi sebelumnya. Sekolah hari ini tidak lagi berhadapan hanya dengan ruang kelas, buku pelajaran, dan jadwal belajar, tetapi juga dengan layar, notifikasi, video singkat, dan algoritma, yakni sistem digital yang terus memilihkan, mengulang, dan menyodorkan konten sesuai kebiasaan penggunanya. Dalam ruang digital seperti itu, perhatian anak tidak lagi mengalir alami, melainkan terus diarahkan, dipancing, dan dipotong-potong.
Dalam situasi seperti itu, tantangan pendidikan tidak cukup lagi dirumuskan sebagai bagaimana membuat anak datang ke sekolah. Tantangan yang lebih penting adalah bagaimana membuat mereka tetap menjadi pembelajar. Sebab, yang kini paling diperebutkan dari anak-anak kita bukan hanya waktu, melainkan perhatian.
Di tingkat kebijakan, kita memang akrab dengan perubahan. Publik telah melewati berbagai fase pergantian kurikulum, perdebatan tentang ujian, pergeseran dari Ujian Nasional ke Asesmen Nasional, lalu hadirnya Tes Kemampuan Akademik. Namun, kita sering abai pada kenyataan bahwa sesering apa pun kebijakan diperbarui, mutu tidak akan bergerak mendalam jika ruang belajar sehari-hari anak tetap dibiarkan sama. Anak tidak belajar di dalam dokumen kebijakan. Anak belajar di kelas, di rumah, di lingkungan pergaulan, dan kini juga di bawah tarikan algoritma yang membentuk kebiasaan perhatian mereka.
Karena itu, masalah pendidikan kita tidak cukup dibaca sebagai soal kebijakan, kurikulum, atau asesmen semata. Akar persoalannya lebih sunyi, yaitu kita belum sungguh menata ekologi belajar. Di sinilah mutu pendidikan sesungguhnya bertumbuh atau justru mandek. Secara sederhana, ekologi belajar merupakan suasana, kebiasaan, relasi, dan pengalaman yang membuat anak merasa belajar itu penting, mungkin dilakukan, dan layak diperjuangkan.
Sayangnya, kebijakan pendidikan kita lebih sering menghasilkan sekolah yang sibuk daripada menumbuhkan hasrat belajar. Jadwal padat, tugas bertumpuk, kegiatan berderet, asesmen berlapis. Dari luar, semuanya tampak hidup. Namun, tidak sedikit murid yang sesungguhnya menjalani sekolah sebagai rutinitas yang melelahkan. Mereka hadir, mencatat, mengerjakan, lalu pindah ke tugas berikutnya. Mereka sibuk, tetapi tidak selalu paham. Mereka patuh, tetapi tidak selalu terlibat. Sekolah ramai, tetapi makna belajar bisa saja sepi.
Di sinilah kita perlu kembali pada hal yang tampak sederhana, tetapi justru paling menentukan. Pendidikan harus menumbuhkan anak yang sadar belajar, ingin belajar, rajin belajar, dan inovatif belajar. Sadar belajar berarti anak paham mengapa ia belajar. Ingin belajar berarti tumbuhnya dorongan dari dalam, bukan semata karena takut dimarahi atau ingin cepat selesai. Rajin belajar berarti tekun, tahan proses, dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan. Inovatif belajar berarti berani menemukan cara yang lebih tepat, lebih cerdas, dan lebih kreatif untuk memahami sesuatu.
Empat hal itu tidak akan tumbuh jika pendidikan tercerabut dari kehidupan nyata anak. Belajar harus dekat dengan bahasa yang mereka pahami, nilai yang mereka hidupi, lingkungan yang mereka kenal, dan persoalan yang mereka alami sehari-hari. Anak lebih mudah terlibat ketika pelajaran tidak terasa asing dari hidupnya. Pada saat yang sama, proses belajar juga harus menghormati cara manusia bertumbuh, seperti perhatian yang terbatas, emosi yang mudah berubah, kebutuhan akan rasa aman, dan pentingnya pengalaman yang bermakna. Pendidikan yang baik bukan pendidikan yang terus-menerus menekan, melainkan yang menuntun anak bertumbuh setahap demi setahap.
Di era algoritma, sekolah tidak cukup hanya menjadi tempat menyampaikan pelajaran. Sekolah harus menjadi ruang yang menjaga anak tetap manusiawi dalam belajar. Jika layar menawarkan kesenangan sesaat, pendidikan harus menawarkan pengalaman yang membekas. Jika algoritma bekerja memecah perhatian, pendidikan harus bekerja menumbuhkan kesadaran, kemauan, ketekunan, dan kreativitas belajar.
Karena itu, pertanyaan kita seharusnya tidak berhenti pada apa yang perlu diajarkan atau instrumen apa lagi yang perlu diganti. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah ekologi seperti apa yang sedang kita bangun bagi anak-anak kita. Sekali lagi, bagi saya, yang perlu dibangun adalah ekologi belajar yang menumbuhkan empat hal sekaligus, yakni sadar belajar, ingin belajar, rajin belajar, dan inovatif belajar. Di tengah era algoritma, itulah fondasi yang akan menjaga anak tetap menjadi pembelajar. Sebab, bangsa ini tidak hanya membutuhkan anak-anak yang datang ke sekolah. Bangsa ini membutuhkan anak-anak yang sungguh belajar, bertumbuh, dan mampu mengarahkan dirinya.

Memuat komentar...