Belakangan, sejumlah polemik tentang kepengarangan ilmiah, integritas akademik, dan penggunaan kecerdasan artifisial kembali membawa dunia keilmuan ke ruang publik. Namun, persoalan yang lebih mendasar bukan hanya apakah prosedur akademik telah dilanggar. Ada pertanyaan yang lebih penting: untuk apa sesungguhnya insan keilmuan hadir?
Pertanyaan ini penting karena keluhuran tidak melekat pada gelar, profesi, ataupun banyaknya publikasi. Yang luhur adalah tanggung jawab yang menyertai pengetahuan: bagaimana ia diperoleh, diuji, dikomunikasikan, dan digunakan bagi kehidupan. Setidaknya ada empat tanggung jawab yang bertemu di sana: mendekati kebenaran, menjaga integritas, menjernihkan pengetahuan, dan menghadirkan kemaslahatan. Fungsi luhur insan keilmuan, dengan demikian, bukan menjadi pemilik kebenaran, melainkan menjaga cara manusia mendekati kebenaran dan memastikan pengetahuan tidak terputus dari tanggung jawab terhadap kehidupan.
Menjaga Cara Mengetahui
Ilmu berkembang bukan karena manusia mampu melihat kenyataan secara sempurna. Justru sebaliknya. Kita membutuhkan ilmu karena cara manusia mengetahui sesuatu memiliki keterbatasan. Pengamatan dapat keliru, ingatan tidak selalu akurat, dan keyakinan yang telah kita miliki dapat memengaruhi cara kita membaca bukti baru.
Metode ilmiah bukan monumen bagi kehebatan rasio manusia. Ia merupakan salah satu cara yang dikembangkan manusia untuk mengoreksi keterbatasan pikirannya sendiri. Bukti diperiksa, metode dibuka, argumentasi diperdebatkan, temuan diuji kembali, dan kesimpulan menyediakan ruang bagi koreksi. Karena itu, salah satu fungsi luhur insan keilmuan adalah mencari kebenaran, bukan mencari pembenaran. Dalam pencarian kebenaran, kita memberi kesempatan kepada bukti untuk mengubah keyakinan kita. Dalam pencarian pembenaran, kita menentukan lebih dahulu apa yang ingin dipercayai, lalu memilih bukti yang menguatkannya.
Di sinilah ‘saya belum tahu’ memperoleh tempat terhormat. Demikian pula keberanian mengatakan bahwa bukti baru membuat kesimpulan sebelumnya perlu diperbaiki. Ilmu tidak menjadi lemah karena mampu mengoreksi dirinya. Justru di situlah salah satu kekuatannya.
Jejak Pertanggungjawaban
Kebutuhan untuk mempertanggungjawabkan pengetahuan bukan perkara baru. Berbagai tradisi keilmuan telah lama memberi perhatian pada asal-usul informasi dan kelayakannya untuk dipercaya. Dalam tradisi keilmuan Islam, misalnya, periwayatan hadis memberi perhatian serius pada rantai transmisi dan kredibilitas pembawanya. Sanad tentu tidak identik dengan sistem sitasi akademik modern, tetapi keduanya mengingatkan satu prinsip penting: pengetahuan yang dipercaya memerlukan jejak pertanggungjawaban.
Dunia akademik modern memiliki perangkatnya sendiri: sitasi, keterbukaan metode, telaah sejawat, dokumentasi data, dan mekanisme koreksi. Semuanya membantu menjawab pertanyaan mendasar: dari mana kita mengetahui sesuatu, bagaimana kita mengetahuinya, dan siapa yang bersedia mempertanggungjawabkannya? Pertanyaan itu semakin penting ketika ruang publik dibanjiri klaim ‘berdasarkan penelitian’, ‘menurut ahli’, atau ‘kata jurnal’. Label ilmiah tidak otomatis membuat sebuah pernyataan benar. Sumber perlu ditelusuri, konteks dipahami, dan kekuatan bukti diperiksa.
Fungsi insan keilmuan karena itu melampaui produksi pengetahuan. Ia juga bertanggung jawab menjernihkan pengetahuan di ruang publik: membedakan fakta dari interpretasi, dugaan dari kesimpulan, serta apa yang sudah diketahui dari apa yang memang belum diketahui.
Pengetahuan dan Kehidupan
Namun, pengetahuan yang dapat dipertanggungjawabkan belum cukup jika terputus dari kehidupan. Berbagai tradisi pengetahuan lokal di Nusantara menunjukkan bahwa pengetahuan tumbuh dalam bahasa, pengalaman, nilai, hubungan antarmanusia, sejarah komunitas, serta relasi manusia dengan alam.
Dalam perspektif etnopedagogi, pengetahuan bukan hanya sesuatu yang diketahui, tetapi juga sesuatu yang hidup, diwariskan, dipraktikkan, dan diberi makna dalam suatu kebudayaan. Ini bukan alasan untuk meromantisasi seluruh pengetahuan lokal atau mempertentangkannya dengan sains modern. Pengetahuan tetap perlu diuji dengan cara yang sesuai. Namun, ada pelajaran penting: pengetahuan mempunyai kehidupan sosial dan membawa konsekuensi. Setiap pengetahuan pada akhirnya berhadapan dengan pertanyaan: untuk siapa ia digunakan? Siapa yang memperoleh manfaat? Siapa yang mungkin menanggung akibatnya? Kehidupan seperti apa yang ikut dibentuk olehnya? Karena itu, fungsi luhur ilmu tidak berhenti pada pertanyaan apakah suatu pengetahuan dapat dipertanggungjawabkan. Ia berlanjut pada pertanyaan yang tidak kalah penting: untuk apa pengetahuan itu digunakan? Di sinilah kecerdasan dan kebijaksanaan seharusnya bertemu. Ilmu membantu manusia menguji apa yang dianggap benar; pengalaman kebudayaan dan kehidupan mengingatkan bahwa apa yang kita ketahui selalu mempunyai konsekuensi. Semakin banyak kita mengetahui, semestinya semakin hati-hati pula kita memperlakukan apa yang kita ketahui.
Ketika Mesin Bisa Menghasilkan Jawaban
Kecerdasan artifisial membuat tanggung jawab tersebut semakin mendesak. Kini mesin dapat membantu manusia mencari informasi, merangkum literatur, menyusun argumentasi, membuat gambar, dan menghasilkan teks dalam hitungan detik. Kemampuan itu membawa banyak manfaat, tetapi juga menghadirkan paradoks baru. Semakin mudah informasi dan jawaban dihasilkan, semakin penting manusia yang dapat mempertanggungjawabkan pengetahuan.
AI dapat menghasilkan kalimat yang meyakinkan. Namun, manusialah yang tetap harus memastikan apakah sumbernya nyata, datanya dapat dipercaya, argumennya masuk akal, kepengarangannya dapat dipertanggungjawabkan, dan kesimpulannya sesuai dengan bukti. Tantangan insan keilmuan pada zaman AI karena itu bukan bagaimana menjadi mesin yang semakin produktif. Tantangannya justru bagaimana tetap menjadi manusia yang semakin dapat dipercaya.
Arsitektur Kepercayaan
Kepercayaan publik terhadap ilmu tidak hadir dengan sendirinya. Ia dibangun melalui keterlacakan sumber, keterbukaan metode, integritas, ruang bagi koreksi, serta tanggung jawab atas penggunaan pengetahuan. Ketika sebuah obat dinyatakan aman, sebuah kebijakan disebut efektif, ancaman bencana diperkirakan, atau suatu metode pembelajaran direkomendasikan, masyarakat tidak mungkin mengulang seluruh penelitian dari awal. Publik mempercayai bahwa ada proses yang dapat dipertanggungjawabkan di balik pengetahuan tersebut.
Karena itu, integritas keilmuan bukan sekadar urusan internal kampus, jurnal, atau lembaga penelitian. Ia merupakan bagian dari arsitektur kepercayaan publik terhadap pengetahuan. Kita mungkin terlalu sering mengukur insan keilmuan dari apa yang dihasilkan: publikasi, sitasi, paten, gelar, konferensi, dan indikator produktivitas. Semua itu berguna. Namun, ada ukuran yang lebih mendasar: bagaimana pengetahuan diperoleh, seberapa jujur batas-batasnya disampaikan, bagaimana ia dijernihkan bagi publik, dan untuk apa ia digunakan. Di situlah empat fungsi luhur itu bertemu: mendekati kebenaran, menjaga integritas, menjernihkan pengetahuan, dan menghadirkan kemaslahatan.
Bangsa ini tentu membutuhkan semakin banyak orang berpengetahuan. Namun, pada zaman ketika informasi berlimpah dan mesin mampu menghasilkan jawaban hampir seketika, kita membutuhkan sesuatu yang lebih mendasar: manusia yang dapat dipercaya ketika berkata, ‘inilah yang kami ketahui’; cukup rendah hati untuk berkata, ‘inilah yang belum kami ketahui’; dan cukup berani untuk berkata, ‘bukti baru menunjukkan bahwa kami perlu memperbaiki kesimpulan.’ Bukan seberapa banyak yang kita ketahui, melainkan bagaimana kita mempertanggungjawabkan cara kita mengetahui dan untuk apa pengetahuan itu digunakan. Di situlah ilmu menemukan keluhurannya.
Deni Hadiana. Pendiri IndonesiaBermutu, Peneliti Pusat Riset Pendidikan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).


Memuat komentar...