Sekolah Rakyat, Sekolah Garuda, dan Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) menambah ragam layanan pendidikan di Indonesia. Sekolah Rakyat memberi layanan berasrama bagi anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem. Sekolah Garuda menyiapkan talenta unggul, terutama di bidang sains dan teknologi. SNT mengintegrasikan layanan pendidikan, pengembangan guru, fasilitas, data, dan penjaminan mutu.
Kekhasan tujuan, sasaran, dan desain ketiga sekolah tersebut membuat pelaksanaannya tidak dapat dipahami dengan ukuran dan pendekatan yang sama. Kesiapan gedung, guru, kurikulum, penerimaan murid, dan anggaran tentu penting, tetapi belum cukup. Ketiganya memerlukan penelitian yang mengikuti prosesnya sejak awal. Tanpa penelitian yang dekat dengan praktik, kita mungkin mengetahui apakah program terlaksana di atas kertas, tetapi belum tentu memahami bagaimana program bekerja, persoalan otentik yang muncul, dan perbaikan yang penting dan mendesak.
Di Sekolah Rakyat, akses pendidikan perlu dilihat bersama pengalaman hidup di asrama, hubungan dengan keluarga, rasa aman, kemandirian, dan kemungkinan stigma. Di Sekolah Garuda, pengembangan talenta menuntut seleksi yang adil serta dukungan bagi murid dari beragam latar. Budaya prestasi juga perlu dijaga agar tidak mengabaikan karakter, kesehatan mental, dan kehidupan sosial murid. Pada SNT, istilah “terintegrasi” perlu dibuktikan dalam praktik. Berada dalam satu kawasan belum dengan sendirinya menciptakan kesinambungan belajar. Integrasi harus terasa dalam pembelajaran, pendampingan murid, pengembangan guru, kepemimpinan, dan transisi antarjenjang. Hubungannya dengan sekolah sekitar juga penting karena SNT diharapkan memperkuat mutu pendidikan di wilayahnya.
Di sinilah pertanyaan “di mana penelitinya?” menjadi relevan. Indonesia tidak kekurangan peneliti pendidikan. Mereka tersebar di perguruan tinggi, lembaga penelitian, pemerintah daerah, pusat kajian, dan organisasi profesi. Masalahnya, hubungan peneliti dan sekolah masih sering bersifat sesaat. Sekolah didatangi ketika data diperlukan. Setelah observasi, wawancara, atau pengisian instrumen selesai, hubungan pun berakhir. Pola ini berguna untuk penelitian tertentu. Namun, sekolah yang sedang mengembangkan model baru memerlukan penelitian yang mengikuti perubahan, menemukan persoalan sejak dini, dan memberi umpan balik ketika perbaikan masih dapat dilakukan. Bagi peneliti pendidikan, sekolah merupakan laboratorium hidup, tempat kelas, asrama, guru, murid, keluarga, komunitas, kebijakan, teknologi, dan pengalaman belajar saling berinteraksi serta menjadi sumber pengetahuan untuk memahami dan memperbaiki pendidikan. Sebutan ini tidak menjadikan warga sekolah sebagai bahan percobaan. Guru memiliki pengetahuan praktik. Murid memiliki pengalaman, suara, hak, dan agensi yang harus dihormati.
Oleh karena itu, peneliti perlu bergerak dari sekadar pengambil data menjadi mitra pengetahuan sekolah. Mereka dapat mendokumentasikan perubahan, memahami perbedaan pengalaman antarlokasi, serta mengembangkan perbaikan bersama warga sekolah. Kedekatan ini tetap harus disertai independensi, kepatuhan terhadap etika penelitian, perlindungan data anak, dan keterbukaan dalam menyampaikan temuan.
Perubahan peran tersebut perlu ditopang tata kelola profesi yang adaptif. Hal ini bukan semata-mata karena perkembangan teknologi, tetapi juga sesuai dengan hakikat kerja peneliti pendidikan. Fenomena pendidikan berlangsung di sekolah, asrama, keluarga, komunitas, dan ruang digital. Peneliti perlu mengikuti tempat pengalaman pendidikan terbentuk, kemudian mengolah data, menafsirkan temuan, dan menulis pada ruang yang mendukung kerja ilmiah.
Saat ini, teknologi tidak lagi sekadar membantu pencarian informasi dan komunikasi. Kecerdasan buatan generatif serta teknologi agentik dapat membantu penelusuran literatur, pengolahan data, penyusunan alternatif analisis, koordinasi pekerjaan, bahkan sebagian tahapan kerja di bawah kendali manusia. Penelitian pun semakin berlangsung dalam ekologi kerja yang tersebar.
Karena itu, kehadiran peneliti semestinya ditentukan oleh fungsi, tujuan, dan nilai tambah kegiatan, bukan kuota hari kerja di kantor. Pertanggungjawabannya terlihat dari kemajuan penelitian, mutu data dan analisis, umpan balik bagi sekolah, keluaran ilmiah, serta temuan yang berguna bagi perbaikan Sekolah Rakyat, Sekolah Garuda, dan SNT.
Tidak diperlukan unit penelitian baru di setiap sekolah. Yang lebih mendesak ialah model “Peneliti Hadir di Sekolah” melalui kemitraan antara sekolah, pemerintah, perguruan tinggi, lembaga penelitian, dan organisasi profesi. Seorang peneliti atau tim kecil dapat bermitra dengan satu sekolah atau satu klaster selama periode tertentu, bukan untuk mengawasi, melainkan mempelajari perkembangan program bersama guru dan pengelola.
Agenda penelitian disusun dari persoalan nyata sekolah. Peneliti hadir secara berkala, mengikuti perubahan, menganalisis pengalaman guru dan murid, serta memberi umpan balik ketika perbaikan masih mungkin dilakukan. Hasilnya tidak hanya berupa artikel atau laporan akhir, tetapi juga catatan pembelajaran, rekomendasi praktis, dan temuan lintas lokasi.
Model ini tidak berarti satu peneliti harus menetap penuh di satu sekolah. Polanya dapat disesuaikan, misalnya satu peneliti untuk satu sekolah, satu tim untuk beberapa sekolah sejenis, atau jaringan peneliti untuk membandingkan ketiganya di berbagai daerah. Hubungan perlu berlangsung cukup lama untuk memahami proses, tetapi tetap menjaga independensi peneliti.
Pertanyaan “di mana penelitinya?” bukan hanya menanyakan lokasi kerja. Pertanyaan itu memastikan pengetahuan ilmiah hadir selama Sekolah Rakyat, Garuda, dan SNT berkembang. Peneliti perlu cukup dekat untuk memahami praktik, cukup lentur mengikuti medan kerjanya, dan tetap cukup independen untuk menilainya.
Deni Hadiana. Pendiri IndonesiaBermutu, Peneliti Pusat Riset Pendidikan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).


Memuat komentar...